Pterigium: Pertumbuhan Fibrovaskular di Permukaan Mata

Pterigium: Pertumbuhan Fibrovaskular di Permukaan Mata

Reviewed by dr. Sabrina Indri Wardani, Sp.M, M.Sc

Posted by RS Krakatau Medika


Pterigium (berasal dari bahasa Yunani: pterygos yang berarti "sayap") adalah kelainan klinis berupa pertumbuhan jaringan fibrovaskular (mengandung jaringan ikat dan pembuluh darah) berbentuk segitiga yang berasal dari konjungtiva (selaput bening di bagian putih mata) dan meluas ke kornea (lapisan bening terluar mata).


Kondisi ini sering dijuluki Surfer's Eye karena prevalensinya yang tinggi pada individu yang banyak menghabiskan waktu di luar ruangan, seperti peselancar atau pekerja lapangan. Meskipun bukan tumor ganas (kanker), pterigium yang progresif dapat mengganggu fungsi penglihatan, menyebabkan astigmatisme, dan menimbulkan keluhan kosmetik.


Etiologi dan Faktor Risiko

Penyebab pasti pterigium masih belum diketahui secara definitif, namun mekanisme patologisnya melibatkan proliferasi jaringan dan peradangan kronis. Faktor risiko utama yang disepakati oleh sebagian besar penelitian adalah:



Gejala Klinis

Pterigium sering berkembang secara perlahan dan mungkin asimtomatik (tanpa gejala) pada tahap awal. Gejala biasanya muncul ketika terjadi peradangan atau pertumbuhan yang signifikan:

1. Pertumbuhan Jaringan yang Terlihat: Munculnya selaput menonjol, berdaging, dan berbentuk baji di bagian putih mata, umumnya di sudut mata dekat hidung (nasal).

2. Iritasi Mata: Mata merah berulang, rasa gatal, sensasi terbakar, atau perasaan seperti ada benda asing/pasir yang mengganjal (foreign body sensation), terutama jika selaput sudah menebal.

3. Mata Kering dan Berair: Pterigium dapat mengganggu lapisan air mata di permukaan mata, menyebabkan gejala mata kering atau sebaliknya, mata berair.

4. Gangguan Penglihatan: Terjadi pada kasus lanjut, meliputi:

  • Astigmatisme (Mata Silinder): Pertumbuhan jaringan menekan dan mengubah kelengkungan kornea, menyebabkan penglihatan kabur atau terdistorsi.
  • Oklusi Visual: Jika pterigium sudah tumbuh hingga menutupi pusat kornea dan pupil, cahaya terhalang, menyebabkan pandangan samar atau ganda.

Diagnosis

Diagnosis pterigium umumnya dilakukan melalui pemeriksaan fisik mata oleh dokter spesialis mata (oftalmologis):

1. Pemeriksaan Slit Lamp: Dokter akan menggunakan mikroskop khusus (slit lamp) untuk melihat pertumbuhan jaringan secara detail di bawah pembesaran dan pencahayaan yang terang.

2. Uji Tambahan: Untuk kasus yang lebih kompleks atau untuk evaluasi sebelum operasi, dapat dilakukan:

  • Pengukuran Ketajaman Visual: Untuk mengetahui tingkat gangguan penglihatan.
  • Kornea Topografi: Untuk mengukur tingkat distorsi dan astigmatisme yang diakibatkan oleh pterigium.

Klasifikasi Drajat Pertumbuhan

Tingkat keparahan pterigium dinilai berdasarkan seberapa jauh jaringan tersebut telah melewati limbus (batas antara kornea dan sklera):

  • Derajat I: Hanya menutup limbus kornea.
  • Derajat II: Melewati limbus, tetapi kurang dari 2 mm di kornea.
  • Derajat III: Sudah melebihi Derajat II, tetapi belum mencapai tepi pupil.
  • Derajat IV: Sudah melewati pupil dan menyebabkan gangguan penglihatan.


Pengobatan dan Tata Laksana

Tatalaksana pterigium terbagi menjadi terapi medis (konservatif) dan terapi bedah.

1. Terapi Medikamentosa (Non-Bedah)

Digunakan untuk pterigium yang kecil, asimtomatik, atau hanya menimbulkan iritasi ringan:

  • Tetes Mata Pelumas (Air Mata Buatan): Untuk meredakan gejala mata kering, gatal, dan rasa mengganjal.
  • Obat Tetes Anti-Inflamasi: Penggunaan Obat tetes mata steroid jangka pendek harus dalam pengawasan dan kontrol dokter spesialis mata atau non-steroid dapat diresepkan untuk mengatasi peradangan dan kemerahan akut. Namun, perlu dicatat bahwa obat-obatan ini hanya meredakan gejala dan tidak menghilangkan pterigium itu sendiri.

2. Terapi Bedah (Eksisi)

Operasi diindikasikan jika:

  • Pterigium sudah menyebabkan gangguan penglihatan yang signifikan (astigmatisme atau oklusi visual).
  • Gejala iritasi kronis tidak membaik dengan obat-obatan.
  • Alasan kosmetik

Teknik Bedah Modern:

Operasi pengangkatan pterigium (eksisi) saat ini paling sering dikombinasikan dengan:

  • Conjunctival Autograft (Cangkok Konjungtiva): Jaringan konjungtiva sehat dipindahkan dari area mata pasien sendiri untuk menutup bekas luka operasi. Teknik ini memiliki angka kekambuhan yang jauh lebih rendah (sekitar 2-40%) dibandingkan teknik eksisi konvensional (bare sclera), yang memiliki angka kekambuhan sangat tinggi (24-89%).
  • Penggunaan Obat Ajuvan: Dokter mungkin menggunakan obat seperti Mitomycin C atau agen Anti-VEGF (meskipun peran Mitomycin C lebih didukung) selama atau setelah operasi untuk lebih menekan risiko kekambuhan. 

Pencegahan

Karena paparan UV adalah faktor risiko utama, pencegahan berfokus pada perlindungan mata:

  • Pelindung UV Optimal: Selalu gunakan kacamata hitam yang memiliki perlindungan UV (UVA/UVB) 100% saat berada di luar ruangan. Kacamata dengan desain melingkupi sisi mata (wrap-around) sangat direkomendasikan untuk memblokir sinar dari samping.
  • Topi/Pelindung Kepala: Kenakan topi bertepi lebar atau visor untuk memblokir sinar matahari tambahan.
  • Lindungi dari Iritan: Gunakan kacamata pelindung di lingkungan berangin, berdebu, atau saat bekerja dengan paparan asap dan bahan kimia.
  • Pemeriksaan Rutin: Lakukan pemeriksaan mata setidaknya sekali setahun untuk mendeteksi pterigium atau masalah mata lainnya sedini mungkin.


Menjaga kesehatan mata adalah langkah penting agar kualitas penglihatan tetap optimal. Pterigium dapat dicegah dan ditangani dengan baik apabila dideteksi sejak dini. Jika Anda mengalami gejala seperti mata merah, terasa mengganjal, atau muncul selaput yang tumbuh ke arah kornea, jangan tunda untuk melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis mata.

Di RS Krakatau Medika, pemeriksaan dan penanganan pterigium dilakukan oleh Dokter Spesialis Mata berpengalaman dengan fasilitas penunjang dan pelayanan yang nyaman.



Sumber Referensi

AMERICAN ACADEMY OF OPHTHALMOLOGY (AAO) BASIC AND CLINICAL SCIENCE COURSE (BCSC)- CHAPTER 8 - EXTERNAL DISEASE AND CORNEA- 2025-2026


Shahraki T, Arabi A, Feizi S. Pterygium: an update on pathophysiology, clinical features, and management. Therapeutic Advances in Ophthalmology. 2021;13. doi:10.1177/25158414211020152


Noguera, S.I., Nicanor, K.S.A., Ang, R.E.T. et al. Clinical outcomes of pterygium surgery over a ten-year period: a review of recurrence and complication rates. BMC Ophthalmol 25, 380 (2025). https://doi.org/10.1186/s12886-025-04196-4


Syahfira, R., Sangging, P. R. A. ., & Himayani, R. . (2023). Management of pterygium surgery: Limbal Conjunctival Autograft and Subconjunctival Amniotic Membrane Graft. Medical Profession Journal of Lampung, 13(4.1), 190-195. https://doi.org/10.53089/medula.v13i4.1.751


Alsarhani, W., Alshahrani, S., Showail, M. et al. Characteristics and recurrence of pterygium in Saudi Arabia: a single center study with a long follow?up. BMC Ophthalmol 21, 207 (2021). https://doi.org/10.1186/s12886-021-01960-0


Hubungi Kami